Beberapa hari yang lalu. Tepatnya pada hari
Jum’at, 1 Mei 2015, dirumah sedang melangsungkan acara aqiqahan anak dari abang
(saudara laki-laki saya). Acara aqiqahan dilaksanakan pada saat bayi berumur 7
hari. Selain untuk melaksanakan sunnah, aqiqahan juga sebagai acara untuk
memperkenalkan nama sang bayi kepada banyak orang. Jujur baru pertama kali saya
menyaksikan acara aqiqahan menurut adat Minangkabau, dari awal hingga akhir
acara dalam situasi saya sudah “ber-akal”.
Anak perempuan abang diberi nama “Adeeva Myesha
Qatrunnada”. Nama yang memiliki makna dan harapan agar perempuan kecil tersebut
menjadi karunia Allah SWT yang kelak disenangi banyak orang dan mententramkan
sekelilingnya.
Kali ini saya akan berbagi tentang rangkaian
acara aqiqahan di Minangkabau, berdasarkan apa yang dilakukan dikeluarga saya.
Pada dasarnya, rangkaian acara aqiqahan sama
saja. Mengundang seorang ustad untuk memimpin doa, menyemblih hewan sesuai
persyaratan aqiqahan, potong rambut sang bayi, berdoa bersama untuk keselamatan
bayi, dan diakhiri dengan makan bersama, untuk mempererat silahturahmi.
Karena anaknya Abang adalah bayi perempuan,
maka menurut syariat islam, syarat melaksanakan aqiqah bagi anak perempuan
adalah menyemblih 1 ekor kambing.
Ibuku, khususnya, begitu antusias menyambut
kehadiran bayi perempuan yang kami panggil Adeeva tersebut, apalagi dalam
mempersiapkan hantaran dari keluargaku untuk acara ini. Maklum yah cucu pertama
dari anak kandungnya. Dalam hal ini kami, menurut adat Minangkabau, keluarga
bapak si bayi (bahasa Minang = Bako), datang ke acara aqiqahan dengan membawa
berbagai macam “bawaan”. Dahulu bawaan dari bako dibawa diatas kepala. Satu
orang membawa satu baki/tampah dan berjalan kaki sambil membentuk satu barisan.
Namun pemandangan seperti itu sekarang mulai jarang dijumpai. Mungkin karena
jarak antara rumah si anak dengan Bako’nya cukup jauh. Jadi yang dahulunya
jalan kaki, sekarang rombongan menggunakan kendaraan.
Ibuku bilang hantaran yang harusnya ada pada
saat Bako datang ke acara aqiqahan adalah kelapa muda, nasi kuning, nasi ketan
(bareh lamak) yang dibumbui kelapa yang dicampur gula aren, opor ayam tanpa
dipotong-potong, kueh, puding, kain
panjang, handuk, perlengkapan bayi dan beberapa hal lainnya seperti emas.
Acara aqiqah menjadi sedikit berbeda ketika
bercampur dengan kebiasaan atau kebudayaan setempat. Yah beginilah tata cara
ditempatku, tanah Minang. Namun hal ini tidak mempengaruhi makna dan hukum-hukum
aqiqahan yang ada. Karena di tanah Minang sangat menganut kata “adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah”. Jadi apapun bentuk ritual yang ditambahkan, tetap berpedoman
pada syariat-syariat yang ada. insyaAllah J
Beberapa hal yang bercampur dengan unsur budaya
yang ada di tanah Minang. Misalnya saja, daging kambing yang disemblih sebagai
syarat utama pelaksanaan aqiqahan dimasak dalam bentuk gulai, gulai kare dengan
campuran bermacam-macam bumbu dan santan yang sangat kental. Siapa yang tidak
kenal dengan masakan Minang, kaya akan segala rupa bumbu, salah satunya masakan
ini. Kalau soal rasa, tidak perlu diragukan lagi, enaknya luarr biasa (menurut
saya).
Hal yang paling diingat bahwasanya orang tua
bayi, hanya boleh memakan olahan daging aqiqahan sebanyak satu kali, tidak
boleh lebih. Alasannya karena daging yang disemblih sebaiknya dibagi-bagikan
kepada tetangga, orang-orang yang dirasa perlu menerima makanan tersebut.
Prosesi selanjutnya yaitu potong rambut. Memang
tidak harus menggunduli rambutnya. Namun ada sebagian wilayah yang mengharuskan
menggunduli rambut si anak, dengan alasan bahwa rambut yang ada sejak lahir
dianggap rambut yang masih kotor, dan alasan lainnya agar nanti rambut yang
tumbuh menjadi lebih lebat. Terlepas dari hal itu, yang baru aku ketahui,
rambut bayi yang dipotong ditimbang beratnya, kemudian berat rambut yang
dipotong tersebut di konversikan dengan harga emas, maka orang tua bayi harus membayar
sedekah sebanyak itu. Ya aku akui baru mengetahui tentang aturan tersebut. Wajib
atau tidak wajib menurut ajaran Islam, menurut saya itu aturannya cukup baik.
Setelah rambut bayi dipotong, kemudian sang
ustad memasukan garam, gula, cabe, dan bumbu-bumbu lainnya kedalam mulut si
anak secara bergantian. Hal ini memiliki makna, agar nantinya si anak bisa
melewati segala rasa kehidupan dengan baik.
Tapi bagaimana kalau
aqiqahannya dilaksanakan ketika sang anak sudah dewasa? Mungkin dilain kesempatan saya akan
menjawab pertanyaan seperti ini.
Selesai sudah rangkaian acara aqiqahan. Acara
dilanjutkan dengan makan bersama. Makan bajamba namanya, dimana semua nasi,
lauk dan sayur sudah disusun rapi, dan semuanya menimati makanan dengan duduk
dilantai, tidak ada meja ataupun kursi. Hal ini bermakna, bahwasanya siapapun
bisa makan dan berkumpul bersama tanpa ada pandangan terhadap status sosial.
Begitulah rangkaian acara aqiqahan ditempatku,
bagaimana ditempatmu?? J