SEDERHANA, TAPI LUAR BIASA
Situasi, pertemuan, serta obrolan pagi
hari itu menurut saya sangat menarik untuk diceritakan kembali. Seminggu yang
lalu ketika sarapan di ruang makan hotel ternama di Jakarta Pusat bersama 2
orang pimpinan di Instansi Saya. Kenapa saya bisa ikut serta pagi itu dengan
beliau-beliau yang hebat?? Mungkin disesi lain akan saya ceritakan. Tapi sungguh
beruntung sekali rasanya, tidak hanya obrolan mengenai pekerjaan dikantor,
dalam kesempatan tidak formal ini saya seperti disuguhi pelajaran hidup oleh
Bapak dan Ibu yang sedang duduk sambil menikmati menu sarapan pagi di di
hadapan saya. Saya biasa memanggil beliau-beliau dengan nama Pak Adi dan Bu
Ida. Makan sambil berbicara sebenarnya tidak sehat, namun hal ini adalah
kesempatan untuk menciptakan kehangatan dalam hubungan bersosialisasi dengan
orang-orang sekitar, dan itulah yang saya lakukan bersama beliau. Beliau-beliau
adalah dua orang hebat dengan jiwa yang hebat pula. Ditengah-tengah obrolan
ringan di pagi itu, tiba-tiba handphone
Pak Adi berbunyi, tanda ada pesan singkat melalui Whatssapp masuk.
Bapaknya membaca pesan itu dan kemudian menunjukan layar HPnya ke
hadapan saya dan Bu Ida. Isinya singkat, cuma kata “I Love You, Abi”.
Jadi ceritanya begini, pesan itu dari anaknya yang di post di grup
Whatssapp keluarga Pak Adi. Penghuni grup itu tentunya Pak Adi, Istri, dan 2
orang anaknya. Jadi Pak Adi selalu membangun komunikasi dengan seluruh
keluarganya, dirumah maupun diluar rumah. Satu hal yang paling aku ingat adalah
beliau membangun kebiasaan dikeluarga untuk mengucapkan kata “I Love You”, kata
yang mudah sekali bukan. beliau juga menyampaikan bahwa memang terkadang orang
Indonesia sulit untuk mengekspresikan rasa peduli, sayang ataupun kagum kepada
orang lain. Kemudian beliau bercerita panjang ketika menunjukan pesan singkat
dari anaknya tersebut. Bagaimana sebuah keharmonisan tersebut bisa saja terjadi
meskipun jarang bertatap muka secara langsung. Kedekatan secara emosional bisa
saja diungkapkan dengan cara apapun, karena apa? Karena beliau menyadari
sedikitnya waktu beliau untuk berinteraksi langsung dengan anak-anaknya. Pada sedikit
kesempatan beliau tidak serta merta melewatkan waktu kebersamaan dengan
anaknya. Ya…sosok bapak yang sungguh bijaksana dan hangat tentunya ketika
melihat sosok beliau. Tentu saja Pak Adi tidak berjalan sendiri, ada istri yang
selalu menyemangatinya. Selain itu beliau juga bercerita ketika dulu belum
mempunyai anak. Pekerjaan rumah yang kebanyakan orang bilang harus dikerjakan
seorang istri, beliau ikut mengerjakan. Mencuci piring, mencuci pakaian serta
beres-beres rumah dengan senang hati beliau kerjakan. Hal ini terlihat dari
cara beliau bercerita kepada saya. Beliau sendiri menegaskan “bukan berarti
pria tidak pernah menyentuh urusan rumah, bahkan itu harus” sambil tersenyum. Tiba-tiba
ingat rumah, meski kita tidak punya grup Whatssapp seperti keluarga Pak Adi,
tapi orang tua saya bisa membangun komunikasi yang baik dengan kami
anak-anaknya J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar