Kamis, 19 Juni 2014


SEDERHANA, TAPI LUAR BIASA


Situasi, pertemuan, serta obrolan pagi hari itu menurut saya sangat menarik untuk diceritakan kembali. Seminggu yang lalu ketika sarapan di ruang makan hotel ternama di Jakarta Pusat bersama 2 orang pimpinan di Instansi Saya. Kenapa saya bisa ikut serta pagi itu dengan beliau-beliau yang hebat?? Mungkin disesi lain akan saya ceritakan. Tapi sungguh beruntung sekali rasanya, tidak hanya obrolan mengenai pekerjaan dikantor, dalam kesempatan tidak formal ini saya seperti disuguhi pelajaran hidup oleh Bapak dan Ibu yang sedang duduk sambil menikmati menu sarapan pagi di di hadapan saya. Saya biasa memanggil beliau-beliau dengan nama Pak Adi dan Bu Ida. Makan sambil berbicara sebenarnya tidak sehat, namun hal ini adalah kesempatan untuk menciptakan kehangatan dalam hubungan bersosialisasi dengan orang-orang sekitar, dan itulah yang saya lakukan bersama beliau. Beliau-beliau adalah dua orang hebat dengan jiwa yang hebat pula. Ditengah-tengah obrolan ringan di pagi itu, tiba-tiba handphone Pak Adi berbunyi, tanda ada pesan singkat melalui Whatssapp masuk.
Bapaknya membaca pesan itu dan kemudian menunjukan layar HPnya ke hadapan saya dan Bu Ida. Isinya singkat, cuma kata “I Love You, Abi”.
Jadi ceritanya begini, pesan itu dari anaknya yang di post di grup Whatssapp keluarga Pak Adi. Penghuni grup itu tentunya Pak Adi, Istri, dan 2 orang anaknya. Jadi Pak Adi selalu membangun komunikasi dengan seluruh keluarganya, dirumah maupun diluar rumah. Satu hal yang paling aku ingat adalah beliau membangun kebiasaan dikeluarga untuk mengucapkan kata “I Love You”, kata yang mudah sekali bukan. beliau juga menyampaikan bahwa memang terkadang orang Indonesia sulit untuk mengekspresikan rasa peduli, sayang ataupun kagum kepada orang lain. Kemudian beliau bercerita panjang ketika menunjukan pesan singkat dari anaknya tersebut. Bagaimana sebuah keharmonisan tersebut bisa saja terjadi meskipun jarang bertatap muka secara langsung. Kedekatan secara emosional bisa saja diungkapkan dengan cara apapun, karena apa? Karena beliau menyadari sedikitnya waktu beliau untuk berinteraksi langsung dengan anak-anaknya. Pada sedikit kesempatan beliau tidak serta merta melewatkan waktu kebersamaan dengan anaknya. Ya…sosok bapak yang sungguh bijaksana dan hangat tentunya ketika melihat sosok beliau. Tentu saja Pak Adi tidak berjalan sendiri, ada istri yang selalu menyemangatinya. Selain itu beliau juga bercerita ketika dulu belum mempunyai anak. Pekerjaan rumah yang kebanyakan orang bilang harus dikerjakan seorang istri, beliau ikut mengerjakan. Mencuci piring, mencuci pakaian serta beres-beres rumah dengan senang hati beliau kerjakan. Hal ini terlihat dari cara beliau bercerita kepada saya. Beliau sendiri menegaskan “bukan berarti pria tidak pernah menyentuh urusan rumah, bahkan itu harus” sambil tersenyum. Tiba-tiba ingat rumah, meski kita tidak punya grup Whatssapp seperti keluarga Pak Adi, tapi orang tua saya bisa membangun komunikasi yang baik dengan kami anak-anaknya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar