Senin, 30 Juni 2014

Kali ini saya ingin berbagi mengenai pengolahan data pasut, pengolahan data pasut ini menggunakan file SLPR2. file ini dapat Anda unduh secara gratis!!


Tahap2 mengolah data Pasut
----------------------------
Melakukan convert data 
1. Copy File slpr2 ke direktori C:\
2. Cek Format Data pada File [nama_file].DAT dengan DTDCNV pada folder DIN
3. Ubah/Tambah list stasiun pada data (stasiun Moramo, stasiun 400, kemudian isikan koordinatnya)
4. lakukan convert data dengan menggunakan file DTDCNV pada Folder UTIL
   melalui command promt
   posisi direktori di folder DAT sehingga c:\slpr2\DAT
   kemudian panggil file DTDCNV dengan c:/slpr2/UTIL/DTDCNV -- enter -- enter
   filename input data : Moramo.DAT
   file versi : A
   Stasiun : 400
   Time zone : 120E
   jika berhasil maka akan muncul file WA40014 pada folder DAT, selanjutnya hapus file Temp.DAT pada folder DAT
 
Setelah WA0014, kemudian lakukan analisis harmonik


Analisis Harmonik
1. Masuk ke Folder slpr2-TIDE - ANA  ---- perhatikan buka melalui command promt dan ketikan TIDEANL P1
2. nanti hasil akhirnya muncul di folder TIDE - HARM = HARM400
   0118032014 : format mulai
   2318042014 : format akhir
!!! semua tulisan dipisahkan dengan spasi di STAINFOnya

Prediksi Pasut
1. Masuk ke Folder PRD --- c:/slpr2/TIDE/PRD/TIDEPRD
2. Tuliskan di Command Prompt
   TIDEPRD P1 P2 P3 P4 P5 P6
  p1 = Versi File untuk keluaran file prediksi pasut (A)
  p2 = stasiun Pasut yang diolah (Moramo=400)
  p3 = 2 digit terakhir tahun
  p4 = zona waktu referensi pada prediksi
  p5 = form prediksi
0 : high-low listing
1: equally spaced (hourly) values
  p6 = 18 tahun (1800-1899), 19 tahun (1900-1999), 20 tahun (2000-2099)
3. Sehingga Ditulis
   c:/slpr2/TIDE/PRD>TIDEPRD A 400 14 120E 0 20
4. Lakukan prediksi berulang hingga 20 tahun prediksi
   dalam hal ini tahun 2014 - 2032
5. file output ada di folder slpr2-PRD

Kamis, 19 Juni 2014


SEDERHANA, TAPI LUAR BIASA


Situasi, pertemuan, serta obrolan pagi hari itu menurut saya sangat menarik untuk diceritakan kembali. Seminggu yang lalu ketika sarapan di ruang makan hotel ternama di Jakarta Pusat bersama 2 orang pimpinan di Instansi Saya. Kenapa saya bisa ikut serta pagi itu dengan beliau-beliau yang hebat?? Mungkin disesi lain akan saya ceritakan. Tapi sungguh beruntung sekali rasanya, tidak hanya obrolan mengenai pekerjaan dikantor, dalam kesempatan tidak formal ini saya seperti disuguhi pelajaran hidup oleh Bapak dan Ibu yang sedang duduk sambil menikmati menu sarapan pagi di di hadapan saya. Saya biasa memanggil beliau-beliau dengan nama Pak Adi dan Bu Ida. Makan sambil berbicara sebenarnya tidak sehat, namun hal ini adalah kesempatan untuk menciptakan kehangatan dalam hubungan bersosialisasi dengan orang-orang sekitar, dan itulah yang saya lakukan bersama beliau. Beliau-beliau adalah dua orang hebat dengan jiwa yang hebat pula. Ditengah-tengah obrolan ringan di pagi itu, tiba-tiba handphone Pak Adi berbunyi, tanda ada pesan singkat melalui Whatssapp masuk.
Bapaknya membaca pesan itu dan kemudian menunjukan layar HPnya ke hadapan saya dan Bu Ida. Isinya singkat, cuma kata “I Love You, Abi”.
Jadi ceritanya begini, pesan itu dari anaknya yang di post di grup Whatssapp keluarga Pak Adi. Penghuni grup itu tentunya Pak Adi, Istri, dan 2 orang anaknya. Jadi Pak Adi selalu membangun komunikasi dengan seluruh keluarganya, dirumah maupun diluar rumah. Satu hal yang paling aku ingat adalah beliau membangun kebiasaan dikeluarga untuk mengucapkan kata “I Love You”, kata yang mudah sekali bukan. beliau juga menyampaikan bahwa memang terkadang orang Indonesia sulit untuk mengekspresikan rasa peduli, sayang ataupun kagum kepada orang lain. Kemudian beliau bercerita panjang ketika menunjukan pesan singkat dari anaknya tersebut. Bagaimana sebuah keharmonisan tersebut bisa saja terjadi meskipun jarang bertatap muka secara langsung. Kedekatan secara emosional bisa saja diungkapkan dengan cara apapun, karena apa? Karena beliau menyadari sedikitnya waktu beliau untuk berinteraksi langsung dengan anak-anaknya. Pada sedikit kesempatan beliau tidak serta merta melewatkan waktu kebersamaan dengan anaknya. Ya…sosok bapak yang sungguh bijaksana dan hangat tentunya ketika melihat sosok beliau. Tentu saja Pak Adi tidak berjalan sendiri, ada istri yang selalu menyemangatinya. Selain itu beliau juga bercerita ketika dulu belum mempunyai anak. Pekerjaan rumah yang kebanyakan orang bilang harus dikerjakan seorang istri, beliau ikut mengerjakan. Mencuci piring, mencuci pakaian serta beres-beres rumah dengan senang hati beliau kerjakan. Hal ini terlihat dari cara beliau bercerita kepada saya. Beliau sendiri menegaskan “bukan berarti pria tidak pernah menyentuh urusan rumah, bahkan itu harus” sambil tersenyum. Tiba-tiba ingat rumah, meski kita tidak punya grup Whatssapp seperti keluarga Pak Adi, tapi orang tua saya bisa membangun komunikasi yang baik dengan kami anak-anaknya J