Rabu, 06 Mei 2015

Ternyata begini tata cara Aqiqahan di Minangkabau :)

Beberapa hari yang lalu. Tepatnya pada hari Jum’at, 1 Mei 2015, dirumah sedang melangsungkan acara aqiqahan anak dari abang (saudara laki-laki saya). Acara aqiqahan dilaksanakan pada saat bayi berumur 7 hari. Selain untuk melaksanakan sunnah, aqiqahan juga sebagai acara untuk memperkenalkan nama sang bayi kepada banyak orang. Jujur baru pertama kali saya menyaksikan acara aqiqahan menurut adat Minangkabau, dari awal hingga akhir acara dalam situasi saya sudah “ber-akal”.
Anak perempuan abang diberi nama “Adeeva Myesha Qatrunnada”. Nama yang memiliki makna dan harapan agar perempuan kecil tersebut menjadi karunia Allah SWT yang kelak disenangi banyak orang dan mententramkan sekelilingnya.
Kali ini saya akan berbagi tentang rangkaian acara aqiqahan di Minangkabau, berdasarkan apa yang dilakukan dikeluarga saya.


Pada dasarnya, rangkaian acara aqiqahan sama saja. Mengundang seorang ustad untuk memimpin doa, menyemblih hewan sesuai persyaratan aqiqahan, potong rambut sang bayi, berdoa bersama untuk keselamatan bayi, dan diakhiri dengan makan bersama, untuk mempererat silahturahmi.
Karena anaknya Abang adalah bayi perempuan, maka menurut syariat islam, syarat melaksanakan aqiqah bagi anak perempuan adalah menyemblih 1 ekor kambing.
Ibuku, khususnya, begitu antusias menyambut kehadiran bayi perempuan yang kami panggil Adeeva tersebut, apalagi dalam mempersiapkan hantaran dari keluargaku untuk acara ini. Maklum yah cucu pertama dari anak kandungnya. Dalam hal ini kami, menurut adat Minangkabau, keluarga bapak si bayi (bahasa Minang = Bako), datang ke acara aqiqahan dengan membawa berbagai macam “bawaan”. Dahulu bawaan dari bako dibawa diatas kepala. Satu orang membawa satu baki/tampah dan berjalan kaki sambil membentuk satu barisan. Namun pemandangan seperti itu sekarang mulai jarang dijumpai. Mungkin karena jarak antara rumah si anak dengan Bako’nya cukup jauh. Jadi yang dahulunya jalan kaki, sekarang rombongan menggunakan kendaraan.
Ibuku bilang hantaran yang harusnya ada pada saat Bako datang ke acara aqiqahan adalah kelapa muda, nasi kuning, nasi ketan (bareh lamak) yang dibumbui kelapa yang dicampur gula aren, opor ayam tanpa dipotong-potong, kueh, puding,  kain panjang, handuk, perlengkapan bayi dan beberapa hal lainnya seperti emas.
Acara aqiqah menjadi sedikit berbeda ketika bercampur dengan kebiasaan atau kebudayaan setempat. Yah beginilah tata cara ditempatku, tanah Minang. Namun hal ini tidak mempengaruhi makna dan hukum-hukum aqiqahan yang ada. Karena di tanah Minang sangat menganut kata “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Jadi apapun bentuk ritual yang ditambahkan, tetap berpedoman pada syariat-syariat yang ada. insyaAllah J
Beberapa hal yang bercampur dengan unsur budaya yang ada di tanah Minang. Misalnya saja, daging kambing yang disemblih sebagai syarat utama pelaksanaan aqiqahan dimasak dalam bentuk gulai, gulai kare dengan campuran bermacam-macam bumbu dan santan yang sangat kental. Siapa yang tidak kenal dengan masakan Minang, kaya akan segala rupa bumbu, salah satunya masakan ini. Kalau soal rasa, tidak perlu diragukan lagi, enaknya luarr biasa (menurut saya).
Hal yang paling diingat bahwasanya orang tua bayi, hanya boleh memakan olahan daging aqiqahan sebanyak satu kali, tidak boleh lebih. Alasannya karena daging yang disemblih sebaiknya dibagi-bagikan kepada tetangga, orang-orang yang dirasa perlu menerima makanan tersebut.
Prosesi selanjutnya yaitu potong rambut. Memang tidak harus menggunduli rambutnya. Namun ada sebagian wilayah yang mengharuskan menggunduli rambut si anak, dengan alasan bahwa rambut yang ada sejak lahir dianggap rambut yang masih kotor, dan alasan lainnya agar nanti rambut yang tumbuh menjadi lebih lebat. Terlepas dari hal itu, yang baru aku ketahui, rambut bayi yang dipotong ditimbang beratnya, kemudian berat rambut yang dipotong tersebut di konversikan dengan harga emas, maka orang tua bayi harus membayar sedekah sebanyak itu. Ya aku akui baru mengetahui tentang aturan tersebut. Wajib atau tidak wajib menurut ajaran Islam, menurut saya itu aturannya cukup baik.
Setelah rambut bayi dipotong, kemudian sang ustad memasukan garam, gula, cabe, dan bumbu-bumbu lainnya kedalam mulut si anak secara bergantian. Hal ini memiliki makna, agar nantinya si anak bisa melewati segala rasa kehidupan dengan baik.
Tapi bagaimana kalau aqiqahannya dilaksanakan ketika sang anak sudah dewasa? Mungkin dilain kesempatan saya akan menjawab pertanyaan seperti ini.
Selesai sudah rangkaian acara aqiqahan. Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Makan bajamba namanya, dimana semua nasi, lauk dan sayur sudah disusun rapi, dan semuanya menimati makanan dengan duduk dilantai, tidak ada meja ataupun kursi. Hal ini bermakna, bahwasanya siapapun bisa makan dan berkumpul bersama tanpa ada pandangan terhadap status sosial.

Begitulah rangkaian acara aqiqahan ditempatku, bagaimana ditempatmu?? J


Kamis, 30 April 2015

Jadi guru meski tak memiliki ruang kelas, kenapa tidak?? :)

Sayyidina Ali bin Abi Talib “ menulis itu pakai hati, maka tulisan Anda akan diterima dengan hati
Tergelitik kembali untuk menulis mendengar kutipan tersebut. Sore ini widiyaswar diklat yang saya ikuti dilanjutkan oelh seorang wanita. Dari cara bicaranya terlihat beliau adalah orang yang bersemangat. Benar saja, setiap tutur kata yang beliau ucapkan, ringan, membuat saya cepat paham maksud ucapannya. Dalam hati saya berucap “ya Allah, kenapa baru sekarang beliau muncul ditengah-tengah kami yang sedang dilanda kantuk”. Hehe, sedikit nakal, tapi jujur, dari pagi materi pelatihan terasa sangat berat dan membuat kantuk. Meskipun sesekali saya mencoba mengajukan pertanyaan untuk memecah rasa kantuk tersebut.

Ya kembali lagi. Bu Nia sapaan akrab wanita itu. Sebagai reporter profesi yang pernah digelutinya, membuatnya lebih santai hadir didepan orang. Satu hal yang ditekan kan olehnya, yaitu “menulis itu jangan sampai terlalu berfikir untuk mengubah dunia, tapi tulislah apa yang kamu pahami dan ketahui, karena dengan menulis membuatmu menjadi guru, iya, guru tanpa kelas”. Ceritanya, dulu beliau bercita-cita menjadi seorang guru, namun tuntutan kebutuhan, penghasilan sebagai seorang guru tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. Kesempatan yang ada pada saat itu, menjadi seorang reporter menjadi profesi yang bisa diandalkan. Lama-lama menggeluti profesi itu, beliau menyadari bahwa dengan profesinya tersebut bisa mewujudkan mimpinya menjadi guru. Guru tak ber-ruang kelas lewat tulisan. Obrolan yang menginspirasi meskipun dalam waku singkat.

So.. masihkah malas menulis??